Enjoy this blog...

Enjoy this blog...
Tampilkan postingan dengan label resensi film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi film. Tampilkan semua postingan

While you were sleeping, my lovely movie......

0
| Selasa, 22 Maret 2011
Cinta pada pandangan pertama, tak selalu menjadi cinta sejati


Itulah ungkapan yang sesuai untuk menggambarkan cerita dari film ini. Film yang dirilis tahun 1995 ini dibintangi oleh Sandra Bullock, Bill Pullman, dan Peter Gallagher.
Menceritakan tentang seorang gadis bernama Lucy Eleanor Moderatz (diperankan oleh Sandra Bullock) yang hidupnya selalu kesepian dan sebatang kara sejak ditinggal mati oleh kedua orangtuanya. Lucy bekerja sebagai seorang penjaga loket di pintu masuk sebuah stasiun. Diam-diam, Lucy mengaguni seorang pria, Peter Callaghan (diperankan oleh Peter Gallagher), yang setiap harinya selalu menumpang kereta di stasiun tersebut. Namun, Lucy hanya bisa memandang wajah pria itu saat melintas di depan loketnya.
Sampai pada suatu hari, Peter yang sedang menunggu kereta yang akan ditumpanginya terjatuh menghantam rel dan pingsan. Lucy yang kaget, segera menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Karena dokter hanya mengijinkan anggota keluarga Peter saja yang boleh menjenguknya, maka Lucy pun berpura-pura menjadi tunangan Peter. Dari sinilah permasalahan-permasalan mulai muncul.

Peter mengalami koma. Keluarga Callaghan (keluarga Peter) yang panik segera menuju ke rumah sakit untuk mengetahui keadaannya. Namun kepanikan berubah menjadi kebahagiaan setelah suster mengatakan bahwa seorang wanita, yang adalah tunangan Peter, yang telah menolong putra mereka. Sambutan hangat ini tak ayal membuat Lucy bahagia karena sebelumnya dia selalu dihimpit rasa kesepian tanpa kehadiran keluarga. Lucy ingin menceritakan kejadian sesungguhnya, namun dia terlanjur merasa sayang pada keluarga tersebut. Terlebih lagi dengan kemunculan Jack Callaghan (diperankan oleh Bill Pullman), yang begitu baik.

Awalnya, Jack tak percaya bahwa Lucy adalah tunangan Peter, karena tak mungkin kakaknya itu menyukai tipe gadis sederhana seperti Lucy. Jack yang selalu menjaga dan melindungi "calon kakak ipar"-nya, lambat laun mulai merasa jatuh cinta pada gadis itu. Namun Jack mencoba melawan perasaannya tersebut karena tidak ingin dianggap lancang karena menyukai tunangan saudaranya sendiri. Di sisi lain, Lucy pun juga mulai merasakan hal yang sama. Dia sadar, selama ini dia hanya mengagumi Peter, tapi pria yang sungguh-sungguh dicintainya hanyalah Jack.
Sampai suatu ketika, Peter terbangun dari koma. Pria itu bingung dengan kenyataan bahwa dia memiliki tunangan (padahal emang nggak, kan?). Apalagi dia sama sekali tak mengenal wanita itu. Namun Peter mulai belajar mencintai Lucy dan melamar gadis itu untuk menikah dengannya. Lucy tak punya pilihan lain selain menyetujuinya walaupun orang yang dia cintai bukan Peter.
Hari pernikahan tiba. Lucy begitu gugup dengan keputusannya itu. Apalagi saat melihat Jack, yang saat itu menjadi Pendamping Mempelai Laki-laki, terlihat begitu tampan dan gagah dalam balutan tuxedo hitam. Saat itu juga, Lucy memutuskan untuk menghentikan upacara tersebut dan menceritakan yang sebenarnya. Kenyataan bahwa dia bukan tunangan Peter dan orang yang dia cintai adalah Jack. Lucy menceritakan bahwa dia tak sanggup menceritakan kejadian yang sebenarnya karena takut kehilangan keluarga Callaghan yang sangat menyayanginya. Hal ini sontak membuat semua yang hadir tercengang dan terharu. Jack yang kaget dengan pengakuan Lucy itu merasa lega karena wanita itu tak jadi menikah dengan saudaranya. Lucy pun meninggalkan gereja dan kembali pada kehidupannya yang sunyi seperti sebelumnya.

Namun suatu hari, Jack beserta keluarga besarnya tiba-tiba datang ke tempat kerja Lucy untuk melamarnya. Pada akhirnya mereka pun menikah dan hidup bahagia. Saat Peter bertanya pada Lucy, sejak kapan dia mencintai adiknya, Lucy hanya menjawab: "It's while you were sleeping (saat kau sedang tertidur)". (reta)

Sinopsis Film Laskar Pemimpi

0
| Senin, 21 Maret 2011
Film yang digarap oleh sutradara kenamaan Monty Tiwa ini memang layak untuk tidak dilewatkan. Cerita berlatar belakang masa perjuangan Indonesia tahun 1946-an ini benar-benar mampu menghadirkan suasana segar di dunia perfilman tanah air yang cenderung sarat dengan unsur-unsur mistis dan kesan vulgar.
 Cerita berawal dari masa setelah kemerdekaan. Agresi Militer Belanda II bulan Desember 1948 membuat Sri Mulyani (Tika Project Pop) terbuang dari kampung halamannya di Maguwo, Jawa Tengah. Sri yang lugu mengembara sampai ke wilayah Panjen dan bertemu dengan pasukan gerilya Indonesia pimpinan Kapten Hadi Sugito (Gading Marten) yang sedang membuka pendaftaran anggota baru.

Bersama Sri hari itu, Udjo, putra seorang ningrat yang mendaftarkan diri karena diperdaya Wiwid (Shanty) gadis pujaan hatinya. Selain itu,  ada Ahok (Odie Project Pop) dan Tumino (Gugum Project Pop), pemuda desa dari wilayah sekitar Panjen. Mereka kemudian bergabung dengan Toar (Yosi Project Pop) pemuda rabun yang sudah lebih dulu menjadi gerilyawan, Kopral Jono (Dwi Sasono) yang sering diturunkan pangkatnya, dan Letnan Bowo (T. Rifnu Wikana) tangan kanan Kapten Hadi Sugito.

Sebelum Sri dan teman-temannya mendapat bekal bertempur yang memadai, pasukan KNIL di bawah pimpinan Letnan Kuyt sudah menyerang basis mereka, desa Panjen. Letnan Kuyt menculik Wiwid dan adiknya, Yayuk (Masayu Anastasia) hingga menimbulkan kemarahan Kopral Jono dan anggota baru gerilyawan Panjen.

Di bawah pimpinan Kopral Jono, laskar yang minim pengalaman itu nekad kabur dari markas untuk membebaskan teman-teman mereka. Dengan hanya mengandalkan keterangan dari Once (Oon Project Pop) tentara KNIL yang mereka tawan, dan laskar mbalelo itu menyerbu markas Letnan Kuyt. Akibatnya, mereka malah terdesak lalu ikut ditawan. Untunglah Letnan Bowo dengan pasukan Panjen lainnya menyusul  dan membebaskan mereka.

Ulah Kopral Jono dan anak buahnya itu membuat Kapten Hadi murka. Mereka dipecat dengan tidak terhormat. Hal ini membuat mereka tidak diikutsertakan dalam serangan besar ke Yogya tanggal 1 Maret 1949 yang dipimpin Letkol Soeharto. Tapi, semangat bertempur Kopral Jono dan para laskar terbuang itu tidak surut. Diam-diam mereka bergerak sendiri mencegat pasukan bantuan Belanda dalam suatu misi nekad, mereka dikenal sebagai pasukan elite oleh pasukan Siliwangi, dan turut mencatatkan sejarah sebagai pahlawan ugal-ugalan yang terlupakan.

Film komedi perjuangan ini sangat cocok untuk ditonton bersama keluarga atau diputar di stasiun TV pada bulan peringatan kemerdekaan. Selain konyol dan menghibur, juga sarat dengan pesan moral yang dapat kita petik. Diantaranya, kebersamaan, persatuan, patriotisme, cinta tanah air, solidaritas, jiwa pantang menyerah; yang saat ini mulai luntur dalam kehidupan bangsa ini. (reta)
 

Copyright © 2010 RETA'S CORNER Blogger Template by Dzignine